08.41
0
Legenda Perpustakaan - Hai sahabat Perawat indonesia sudah membaca apa hari ini ? kali ini Lampua7aib bakal membagi kan satu tulisan yang perlu kamu baca ;) tulisan ini mungkin akan bisa membuka mata kalian tentang kehidupan ini. apa isi tulisan ini? siapakah penulis artikel ini ?
mari di baca dengan seksama yah :)

Legenda Perpustakaan - Sahabat Rijal

Lihat gambar diatas, dan sampaikan pada diri kalian sendiri apa yang kalian rasakan. Apakah kerinduan, ketenangan, sepi, atau justru menyeramkan seakan tidak ada kehidupan.

Itu adalah gambar salah satu sisi dari ruang di dalam perpustakaan. Tentu setiap orang yang pernah sekolah apalagi kuliah sangat familiar dengan istilah ini. Sebuah ruangan yang di dalamnya banyak menyajikan buku yang legendanya menjadi Jendela Dunia. Mengapa legenda, untuk jawabannya mari simak tulisan ini.

Beberapa film menggambarkan ruangan ini sebagai tempat yang tenang, dimana semua orang sibuk dengan bacaannya masing-masing. Tidak ada keributan, karena penjaga yang kebanyakan berkacamata itu selalu menegur siapapun yang membuat kegaduhan. Bahkan dalam film fantasi pun, hewan-hewan yang ditugaskan menjadi penjaga memakai kacamata. Namun bukan kacamata para penjaga perpustakaan ini yang akan kita bahas lebih lanjut disini. Lebih dari pada itu, sebuah sudut pandang lain melihat sisi bangunan peradaban ini.

Kembali pada topik tentang kondisi perpustakaan saat ini. Bisa dibilang memprihatikan, mendengar cerita para penggemar buku. Kebanyakan dari perpustakaan kita sepi. Ada beberapa yang ramai, namun selidik punya selidik bukan karena buku yang banyak diminati, lebih karena fasilitas Wifi gratis yang ditawarkan pengelola perpustakaan. Kebanyakan dijadikan arena pertemuan, itupun sampai depan pintu kemudian balik kanan. Bahkan dibeberapa kampus karena kekurangan ruangan, perpustakaan dijadikan ruang kelas, tempat ujian, atau tempat rapat organisasi. Bayangkan saja suasana perpustakaan ang tadinya tenang.

Benar-benar terjadi di Indonesia, banyak sinetron dan iklan menampilkan perpustakaan sebagai tempat yang cenderung lain dari kondisi-kondisi di atas. Misalnya ada sebuah adengan pertemuan antara muda-mudi yang jatuh cinta berbagi akun sosmed. Itu salah satu contoh, dan akan banyak contoh dimana perpustakaan menjadi tempat pertemuan saja dan cenderung menghilangkan kegiatan membaca atau menulis. Mungkin ini menjadi sarana mempromosikan kembali perpustakaan, atau bisa jadi menyindir tidak maksimalnya fungsi perpustakaan saat ini.

Ini permasalahan kita bersama. Bahkan kalau ingin berkacapun, meski familiar dengan istilah perpustakaan kita jarang mengunjunginya. Kebanyakan perpustakaan kampus selalu penuh menjelang musim skripsi dan setelah itu sepi lagi. Ada yang bilang “lebih baik dari pada tidak”. Namun ironi ketika perpustakaan yang didalamnya tersedia berbagai Ilmu Pengetahuan harus dibuka diwaktu tertentu saja. Bayangkan saja rumah kita bila tidak pernah kita buka Jendelanya, dan rasakan yang akan terjadi.

Internet dan Media menjadi Penyebab Utama

E-book, E-Jurnal, dan banyak E lainnya sudah memang menggatikan fungsi buku secara umum. Namun bukan berarti buku telah mati, keterbatasan piranti tehnologi saat ini tetap menjadikan buku sebagai pilihan untuk menjadi referensi utama. Dibeberapa kampus, meski jumlahnya sedikit, mewajibkan mahasiswanya membawa buku referensinya saat presentasi atau mendiskusikan buku sebagai literatur yang memperkuat pemahaman terkait mata kuliah bersangkutan.

Penggunaan buku sebagai referensi sangat membantu membentu budaya baca dan berfikir kritis. Seseorang harus membaca keseluruhan bab atau buku untuk mengetahui maksud dari buku tersebut. Memang lebih melelahkan dan menghabiskan banyak waktu. Namun dibanding E-book misalnya ang dapat dengan mudah kita mencari topik tertentu dengan menekan tombol search, buku membangun budaya baca yang lebih kuat. Budaya yang belakangan ini mulai lutur pada generasi muda kita.

Tehnologi memang mudah. Namun mental perubahan tidak dibangun dengan sesuatu yang mudah, butuh kesungguhan. Bukan berarti anti tehnologi, mereka pelengkap dalam usaha kita memahami fenomena kekinian dan usaha untuk memperbaikinya. Berita dengan mudah kita akses dengan cepat, dan menjadikan jarak tidak menjadikan penghalang untuk berkomunikasi, bertukar pikiran.

Tehnologipun harus digunakan secara bijak dan tidak melalaikan pengunanya. Bisa saja suatu saat di masa depan nanti semua buku tersedia dalam bentuk soft dan dapat diakses melalui Internet. Jadilah perpustakaan Dunia Nyata semakin sepi dan hilang digantikan dengan Perpustakaan Online yang beberapa perpustakaan besarpun sekarang sudah mengembangkan program ini. Akhirnya, Ruang Perpustakaan suatu saat nanti mungkin jadi legenda, dan hanya kita lah yang mampu untuk mempelambat waktu dan berusaha tetap menjaganya sebagai gudang Jendela Dunia.

Wallahua’lam

Tulisan ini di publish
Feb. 15 2015
Oleh : Sek.Jend. Ilmiki - Ahmad Rizal
Sumber Tulisan : Sahabat Rijal
#baca #budaya #mahasiswa
Next
This is the most recent post.
Posting Lama

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.